Dari Maninjau
ke Dunia
Lahir di Maninjau, Sumatera Barat — lembah yang dikelilingi danau dan bukit, tempat banyak pemikir besar Indonesia bermula. Afnan menempuh pendidikan hukum di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, kota yang juga menjadi rumah berpikirnya hingga kini.
Di Yogyakarta ia tumbuh bersama gerakan budaya mahasiswa: mendirikan Forum Budaya Cemara Tujuh, Forum Penyair Bulaksumur, dan bergabung dengan Kelompok Bulaksumur di bidang seni rupa. Dari forum-forum itulah puisi-puisinya mulai beredar antarkampus, sebelum akhirnya ia inisiasi sebuah deklarasi yang membekas dalam sejarah.
Hari ini ia berprofesi sebagai pengacara — jabatan yang tidak pernah ia lepaskan dari identitas kepenyairannya. Keduanya bekerja dari dasar yang sama: kepercayaan bahwa kata-kata punya tanggung jawab terhadap kenyataan.
Buku & Antologi
Karya Afnan muncul dalam berbagai wujud — kumpulan puisi tunggal, antologi bersama, hingga penerbitan lintas negara. Puisi dan perlawanan tidak pernah ia pisahkan.






Antologi Bersama
gerakan
budaya
Pasca-stroke,
puisi tidak berhenti
Kondisi kesehatan setelah stroke tidak memperlambat produksi karyanya — justru sebaliknya. 241 puisi ditulis sepanjang 2025, tahun pertama pasca-stroke. Afnan menjadikan tubuh yang terbatas sebagai sudut pandang baru, bukan halangan.
Tema difabelisme masuk ke dalam puisinya bukan sebagai keluhan, melainkan sebagai cara melihat yang berbeda — perspektif dari bawah, dari tepi, dari tempat yang tidak biasa dihuni orang-orang yang merasa kuat.
Ini juga yang membuat karya-karyanya periode ini terasa berbeda: lebih pelan, lebih dalam, lebih sadar terhadap setiap kata yang dipilih.
Masuk ke
Ruang Puisi
20 puisi imersif yang menyatukan teks, visual, dan konteks — perjalanan melalui tiga dekade menulis dari Yogyakarta ke Santiago ke Almaty ke Semarang.