Maninjau · Yogyakarta · Santiago · Almaty

Afnan
Malay

Penyair. Pengacara. Inisiator Sumpah Mahasiswa 1988.
Lahir dari lembah Maninjau, tumbuh dalam puisi dan perlawanan.

Gulir ke bawah
Afnan Malay · afnanmalay.com
1988
Sumpah Mahasiswa
6+
Buku puisi
2
Residensi internasional
342
Puisi terarsip
"setiap hari orang selalu mempunyai harapan"
— Afnan Malay
01
Asal & Perjalanan

Dari Maninjau
ke Dunia

Lahir di Maninjau, Sumatera Barat — lembah yang dikelilingi danau dan bukit, tempat banyak pemikir besar Indonesia bermula. Afnan menempuh pendidikan hukum di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, kota yang juga menjadi rumah berpikirnya hingga kini.

Di Yogyakarta ia tumbuh bersama gerakan budaya mahasiswa: mendirikan Forum Budaya Cemara Tujuh, Forum Penyair Bulaksumur, dan bergabung dengan Kelompok Bulaksumur di bidang seni rupa. Dari forum-forum itulah puisi-puisinya mulai beredar antarkampus, sebelum akhirnya ia inisiasi sebuah deklarasi yang membekas dalam sejarah.

Hari ini ia berprofesi sebagai pengacara — jabatan yang tidak pernah ia lepaskan dari identitas kepenyairannya. Keduanya bekerja dari dasar yang sama: kepercayaan bahwa kata-kata punya tanggung jawab terhadap kenyataan.

1988
Inisiator Sumpah Mahasiswa di Universitas Gadjah Mada — deklarasi yang menjadi ikon gerakan pro-demokrasi era Orde Baru.
1995
Esai "Errare Humanum Est" terbit di Jawa Pos — analisis kekuasaan yang kemudian menjadi referensi pemikiran kulturalnya.
2020
Menerbitkan tiga buku: To Kill the Invisible Killer (bersama FX Rudy Gunawan), Tentang Presiden dan Pelajaran Membaca, dan Tukang Cukur Tuan Presiden.
2022
Residensi puitika di Santiago, Chili — atas biaya Dirjen Kebudayaan RI. Antologi dua bahasa Para La Vida terbit 2023.
2023
Residensi puitika di Kazakhstan. Antologi bersama penyair Indonesia-Rusia dalam proses penerbitan.
2024–25
Penerima Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI, kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif. Pameran tunggal lukisan ALIR di Tan Artspace, Semarang.
02
Karya & Publikasi

Buku & Antologi

Karya Afnan muncul dalam berbagai wujud — kumpulan puisi tunggal, antologi bersama, hingga penerbitan lintas negara. Puisi dan perlawanan tidak pernah ia pisahkan.

Buku / 01
To Kill the Invisible Killer
Bersama FX Rudy Gunawan
KPG · 2020
Antologi Puisi
Buku / 02
Tentang Presiden dan Pelajaran Membaca
Interlude · 2020
Kumpulan Puisi
Buku / 03
Tukang Cukur Tuan Presiden
2020
Kumpulan Puisi
Buku / 04
Buku Fiksi Mulyono
2024
Kumpulan Puisi
Buku / 05
Para La Vida / Untuk Kehidupan
Antologi Indonesia–Chili
Dua bahasa · Santiago & Jakarta · 2023
Residensi
Buku / 06
Anjing Berbukit Kabut
Dalam proses penerbitan · 2025
Kumpulan Puisi

Antologi Bersama

Pulang ke Kampung Nenek (2023) Candi di Tepi Kolam (2023) Silaturahmi Sehati (2023) Si Binatang Jalang (2024) Jauhari (2024) Risalah Sunyi (2024) Teh, Imajinasi, Puisi (2024) Darah Juang (2021) 121 Purnama (2021)
03
Residensi & Perjalanan
I
Residensi Puitika · 2022
Santiago, Chili
Disponsori Dirjen Kebudayaan RI. Pertemuan penyair Indonesia–Chili menghasilkan antologi dua bahasa Para La Vida (Untuk Kehidupan) yang terbit di Santiago dan Jakarta, 2023.
Desember 2022
II
Residensi Puitika · 2023
Almaty, Kazakhstan
Disponsori Dirjen Kebudayaan RI. Dialog puisi lintas budaya antara penyair Indonesia dan Rusia. Antologi bersama dua bahasa dalam proses penerbitan.
2023
Komunitas &
gerakan
budaya
Forum Budaya Cemara Tujuh Forum Penyair Bulaksumur Kelompok Bulaksumur (Seni Rupa) Universitas Gadjah Mada · Yogyakarta Gerakan Mahasiswa Pro-Demokrasi 1988 Residensi Puitika Chile 2022 Residensi Puitika Kazakhstan 2023 Dana Indonesiana Kemendikbud 2025 Pameran ALIR · Tan Artspace · Semarang 2026
04
Empat Puisi
Sajak · I
berhutang kepada gelap
gelap, airmata, kelelahan kadang datang sebagai penyelamat
Puisi paling autobiografis dalam korpus 2025 — ditulis pasca-stroke, menemukan paradoks: kegelapan dan kelelahan sebagai jalan keluar, bukan jalan buntu.
Sajak · II
tidak jadi bercerita
kita baru saja belajar saling mendengar waktu kita panjang
Meditasi tentang komunikasi dan mendengarkan. "Waktu kita panjang" menjadi semacam mantra — kepercayaan terhadap proses yang tidak terburu-buru.
Sajak · III
serdadu bulan Juni
negeri bertumbuh merawat sungsang aktor berganti menyalin skenario berubah endingnya sama: riwayat tamat
Kritik sosial-politik yang menggunakan kata "sungsang" sebagai kunci — negara yang tumbuh terbalik, aktor berganti tapi cerita tetap sama.
Sajak · IV
SUMPAH MAHASISWA
bertanah air satu tanah air tanpa penindasan berbahasa satu bahasa kebenaran
Reformulasi Sumpah Pemuda 1928 dalam konteks Orde Baru — tiga stropi paralel yang menjadi deklarasi gerakan mahasiswa UGM 1988.
05
Berkarya dalam Keterbatasan

Pasca-stroke,
puisi tidak berhenti

Kondisi kesehatan setelah stroke tidak memperlambat produksi karyanya — justru sebaliknya. 241 puisi ditulis sepanjang 2025, tahun pertama pasca-stroke. Afnan menjadikan tubuh yang terbatas sebagai sudut pandang baru, bukan halangan.

Tema difabelisme masuk ke dalam puisinya bukan sebagai keluhan, melainkan sebagai cara melihat yang berbeda — perspektif dari bawah, dari tepi, dari tempat yang tidak biasa dihuni orang-orang yang merasa kuat.

Ini juga yang membuat karya-karyanya periode ini terasa berbeda: lebih pelan, lebih dalam, lebih sadar terhadap setiap kata yang dipilih.

Dari puisi · dalam keterbatasan
dalam keterbatasan
dalam keterbatasan aku melihat yang tak mampu dilihat orang dalam keterbatasan aku mendengar yang tak mampu didengar orang dalam keterbatasan aku tidak perlu pagar batas-batas, tamat k-u-p-e-l-a-j-a-r-i
Melampaui Dinding Realitas

Masuk ke
Ruang Puisi

20 puisi imersif yang menyatukan teks, visual, dan konteks — perjalanan melalui tiga dekade menulis dari Yogyakarta ke Santiago ke Almaty ke Semarang.